Home / Kegiatan MPII / MENGEMBANGKAN POTENSI EKONOMI ISLAMIC FASHION DI MASA PANDEMI

MENGEMBANGKAN POTENSI EKONOMI ISLAMIC FASHION DI MASA PANDEMI

KH. Arif Fakhruddin, M.Ag – Sekretaris LPBKI MUI

Perkembangan Industri fashion muslim semakin berkembang tidak hanya di Indonesia, bahkan di dunia. Salah satu bidang ekonomi yang menjadi bagian penting halal industri ini tidak hanya diminati oleh para pengusaha busana Muslim, bahkan pengusaha non Muslim pun mulai melirik bisnis ini. Tidak hanya berkembang dari aspek penawarannya, permintaan akan busana Muslim khususnya di Indonesia juga semakin meningkat. Data menyebutkan bahwa Indonesia merupakan Negara terbesar dalam pasar konsumsi fashion Muslim di dunia sebesar $ 13,5 triliun setelah Turkey, United Arab Emirates, Nigeria dan Arab Saudi. Sejalan dengan studi yang dilakukan oleh Thomson Reuters bahwa total pengeluaran Muslim untuk produk pakaian (fashion) adalah hampir mencapai $ 254 triliun pada tahun 2016 dan diprediksi akan semakin meningkat hingga $ 373 triliun di tahun 2020. Kondisi ini menunjukkan bahwa tingginya pasar fashion Muslim tidak hanya di Indonesia namun juga secara global. Fashion Muslim secara jelas tidak hanya memiliki dampak besar terhadap ekonomi suatu Negara namun juga sarat akan pesan dakwah. Oleh karenanya, pemerintahan Indonesia melalui kementerian industri dan perdagangan mulai mendeklarasikan bahwa Indonesia akan menjadi Qiblat Islamic Fashion di tahun 2020.

Indonesia kaya akan khazanah budaya di bidang fesyen, batik pada khususnya. Bahkan, beberapa analisis menunjukkan bahwa batik adalah salah satu medium Walisongo dalam menyebarkan Islam di Nusantara dengan cara yang moderat, estetik, adaptif, artikulatif, dan reflektif transendentif.

Oleh karenanya, acara yang diselenggarakan secara virtual pada Kamis, 13 Agustus 2020 ini berorientasi dalam kolaborasi antara aktualisasi khazanah fesyen Islami Indonesia dan optimalisasi dakwah Islam yang moderat dan toleran tersebut mengandung tiga pesan: pertama, mengembangkan peluang ekonomi Islam melalui fashion Islami. Kedua, memperkuat paham Islam Ahlussunnah wal jamaah yang tawasuth, tawazun, tasammuh, dan i’tidal dalam design fashion Islami. Ketiga, mensosialisasikan gerakan literasi pandemi wabah Covid 19 melalui buku Fiqh Wabah oleh para designer fashion Islami.

Di era pandemi Covid 19 ini, industri Islamic Fashion di Indonesia juga tidak terlepas dari dampak. Kementerian Perindustrian Indonesia (Kemenperin) juga turut meng ’iya’ kan hal ini dimana terlihat dari penurunannya penjualan produk fashion muslim khususnya sebelum lebaran. Tidak terbatas itu saja, sejumlah produsen produk Muslim juga menurunkan jumlah produksinya sebagai dampak dari menurunnya jumlah permintaan. Namun demikian, tidak sedikit pula pengusaha fashion Muslim mulai beralih pada platform-platform penjualan online. Pasar online dinilai cukup efektif dalam mengembangkan potensi penjualan fashion Muslim tidak hanya di Indonesia namun juga global.

Sebagai penyedia layanan pendidikan, Universitas Ibn Khaldun Bogor bekerjasama dengan Lembaga Pentashih Buku dan Konten Keislaman Majelis Ulama Indonesia (LPBKI-MUI) Majelis Ulama Indonesia berkomitmen untuk mendukung tujuan pemerintah dalam menjadikan Indonesia sebagai Kiblat Islamic Fashion di tahun 2020. Salah satunya adalah dengan mempersiapkan sumber daya manusia yang kompeten dan berkualitas di Bidang Islamic Fashion. Oleh karenanya, dalam rangka membuka mata kuliah pilihan ‘Islamic Fashionpreneur’, (mata kuliah yang ditujukan bagi mahasiswa yang berminat mempelajari dan berkarir di Industri Islamic fashion, mata kuliah ini tidak hanya mengedepankan aspek fashion semata, namun juga aspek syariahnya), Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Ibn Khaldun Bogor dengan bekerja sama dengan LPBKI-MUI mengadakan seminar nasional virtual tersebut.

Seminar Nasional Virtual ini dihadiri oleh KH. Masduki Baidlowi Staf Khusus dan Juru Bicara Wapres RI sebagai Keynote Speaker, Dr. H. Anwar Abbas Sekjend MUI, Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, Guru Besar UIKA Bogor, dan Prof. Dr. H. Endang Soetari, Ketua LPBKI-MUI. Seminar virtual ini diikuti oleh ratusan peserta dari akademisi, praktisi, aktivis Ormas Islam, dan didominasi oleh kalangan milenial. Sedangkan para narasumber di antaranya:

  1. Direktur IKM Kimia, Sandang, Kerajinan dan Industri Aneka – Ditjen IKMA
    Ibu Ir. E. Ratna Utarianingrum, M.Si,
  2. Dr. Hj. Indriya Rusmana, (Designer dan Owner IRD Batik & Fashion)
  3. Fanti Wahyu Nurvita, ST., (Designer & Owner Hesandra Indonesia)
  4. Aam Laurisha (Designer & Owner Aam Laurisha)
  5. Kamawardhana (Designer dan Owner Dhana Design Indonesia Co.Group)
  6. Arif Fahrudin, Sekretaris LPBKI-MUI.

About cak rochin

Check Also

Islam Wasathiyah Indonesia untuk Dunia

Islam Wasathiyah Indonesia untuk Dunia, Mukadimah Hasil Komisi Penguatan Kehidupan Beragama, KUII-VII 2020 Bangka Belitung …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *