Home / Kegiatan MPII / Indonesia Negara Kebajikan ( Darul ‘Amal)

Indonesia Negara Kebajikan ( Darul ‘Amal)

Indonesia Negara Kebajikan ( Darul ‘Amal)
Oleh: Arif Fahrudin (Sekretaris YPI Al-Wathoniyah Pusat Jakarta)

Dalam pidato perdananya di hadapan Kongres Amerika Serikat 16 Mei – 3 Juni 1956, Bung Karno menguraikan Pancasila. Disampaikannya bahwa Pancasila adalah hogere optrekking (peningkatan) dan “melampaui” dua poros ideologi yaitu liberalism dan komunisme. (Yudi Latif, Pancasila untuk Dunia: 2017). Liberalisme tidak mengenal konsep keadilan sosial. Komunisme tidak mengenal prinsip ketuhanan. Namun, Pancasila punya semuanya, bahkan lebih.


Sila kesatu Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa sebagaimana termaktub dalam UUD 1945 Pasal 29 ayat 1 yang berbunyi Negara Berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa jelas adalah sebuah dimensi tauhid. Ia menjiwai dan memandu sila-sila setelahnya, termasuk sila kedua yang berdimensi kemanusiaan. Dimensi ketauhidan dan kemanusiaan adalah inti ajaran Islam. Kedua sila tersebut mutlak bagi terwujudnya persatuan. Persatuan tidak akan pernah tercapai tanpa adanya mekanisme musyawarah mufakat sebagaimana isi sila keempat Pancasila. Dimensi tauhid, kemanusiaan, persatuan, dan musyawarah-mufakat itulah yang akan mengantarkan kemajuan dan keadilan sosial seluruh rakyat Indonesia sebagaimana tertuang menjadi sila kelima Pancasila.


Maka, Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI adalah kiblat bangsa Indonesia. Ajaran Islam telah teresap dan terserap di dalamnya. Pancasila adalah “Rumah Jamaah” bangsa Indonesia dimana umat Islam berada di barisan terdepan dalam mewujudkan, merumuskan dan membangunnya. Pancasila adalah amal terbesar umat Islam untuk NKRI. Meskipun Pancasila bukanlah agama, dan Islam bukanlah Pancasila, faktanya umat Islam Indonesia telah menjadikan Pancasila sebagai wadah dan ekspresi keberislaman dalam konteks keindonesiaan di tengah tingkat pluralitas yang begitu tinggi.
Islam dan Pancasila tidak bertentangan, bahkan saling memaslahatkan. Keberislaman dan nasionalisme telah melebur dalam Pancasila. Keduanya tidak patut dipertentangkan dan dipisahkan. Keduanya mutlak berjalan seiring setujuan sebagai syarat Pancasila melebih ideologi-ideologi dunia. Maka, sekularisasi Pancasila adalah pengingkaran terhadap religiusitas negara Indonesia. Sedangkan penggunaan agama untuk menentang Pancasila adalah pengkhianatan terhadap kesepakatan bernegara Indonesia.


Oleh karenanya, tidak boleh ada yang meragukan bahwa umat Islam Indonesia telah menjadi komponen terdepan dalam tanggungjawab terhadap keutuhan dan lestarinya Pancasila serta NKRI. Seyogyanya umat Islam Indonesia juga menjadikan amal kebangsaannya tersebut untuk meningkatkan produktivitas kiprah pengabdiannya untuk terus memajukan dan meningkatkan level prestasi Indonesia di segala bidang. Umat Islam dan umat beragama lainnya hendaknya terus merawat dan memperkuat pandangan keagamaannya bahwa Indonesia adalah bentuk ikatan persaudaraan kebangsaan. Berkomitmen dan bergotong-royong dalam satu bangsa dan satu tanah air.


Umat Islam juga senantiasa terus memastikan perjalanan negara Indonesia tetap berada di atas rel ( on the right track ) yang telah susah payah dibangun dan didesign oleh para ulama dan founding leaders , yang termaktub dalam janji mukadimah UUD NRI 1945 yaitu bangsa Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Sehingga, Indonesia dapat berkiprah lebih banyak sesuai tekad konstitusi yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.


Masih dalam suasana keprihatinan di tengah masa wabah Korona, mari amalkan Pancasila sebagai bentuk ekspresi kebersamaan, gotong-royong, dan kolaborasi dalam pengentasan pandemi Covid 19. Hal ini lebih konstruktif dan kontributif daripada berakrobat dalam wacana pemakzulan pemimpin negara sendiri.


Selamat hari lahir Pancasila 1 Juni 2020. Semoga rahmat dan inayah Allah SWT senantiasa tercurah untuk seluruh bangsa Indonesia.

About hilman qurtubi

Check Also

MENGEMBANGKAN POTENSI EKONOMI ISLAMIC FASHION DI MASA PANDEMI

KH. Arif Fakhruddin, M.Ag – Sekretaris LPBKI MUI Perkembangan Industri fashion muslim semakin berkembang tidak …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *